Penyandang Disabilitas Perajin Wayang Kayu

Malang - Keterbatasan fisik tak mennjadi halangan bagi Mulyono, seorang perajin wayang kayu yang tinggal di kawasan Dusun Turus, Desa Ternyang Kecamatan Sumperpucung Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sehari-hari ia menggunakan sepeda angin roda tiga untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Selain itu, ia juga menggunakan kruk untuk alat bantu jalan karena kedua kakinya mengalami cacat sejak lahir. Meski demikian, keterbatasan fisik ini tidak lantas membuat dirinya putus asa. Menjadi perajin wayang kayu merupakan aktivitas rutin yang setiap hari ia lakukan. Tidak mudah, ia harus melakukan beberapa kali proses untuk bisa membuat wayang kayu yang diinginkan.

Mulai dari penyiapan bahan kayu, menggambar pola wayang pada kayu, pengukiran pada bagian tertentu wayang dan hingga proses finishing wayang yakni pewarnaan. Dibutuhkan sekitar lima hingga empat belas hari untuk bisa rampungkan satu karakter wayang kayu ini, dari bahan kayu mahoni ini. menjadi perajin wayang kayu sudah ia tekuni sejak sekitar 28 tahun silam di tahun 1990-an. “Sejak remaja, saya sudah menggeluti usaha ini. Putus asa memang sempat ada, tapi untuk berjuang melawan kerasnya hidup, apalagi dengan keterbatasan fisik, saya harus bisa bangkit lebih dari orang normal”, tutur Mulyono.

Saat itu ia belajar dari seorang perajin bernama pak hasyim, setelah lama belajar akhirnya dirinya belajar untuk mandiri dengan membuat wayang dari kayu. Setelah hasilnya dinilai cukup baik. kemudian hasil karyanya dipamerkan di sebuah pameran di Bojonegoro, dan dihadiri leh gubernur Imam Utomo kala itu, banyak sekali yang tertarik dan kemudian memesan wayang kayu hasil buatannya. “Bangga banget mas karya yang memang tidak seberapa mendapat apresiasi dari semua orang, terlebih oleh gubernur pada masa itu”, imbuhnya. Saat ini, wayang kayu hasil karyanya ini sudah banyak dipesan hingga keluar kota. Satu jenis wayang kayu, dipatok mulai dari harga Rp. 350 ribu hingga Rp. 500 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan wayang. “Doakan saja hasil karya saya bisa sampai luar negeri suatu saat nanti”, tutup Mulyono. -TP

Media Kita Bersama