Limbah Cair Ikan Pindang Disulap Mejadi Pupuk

Malang - Limbah cair pengolahan ikan pindang  selama ini menjadi masalah serius di kawasan pemukiman warga Desa Mlaten Kecamatan Nguling  Kabupaten Pasuruan. Tak hanya bau yang menyengat, keberadaannya juga mengganggu kesehatan warga serta membahayakan keseimbangan ekosistem yang ada .

Atas dasar hal itu, sekelompok mahasiswa fakultas ilmu perikanan dan kelautan Universitas Brawijaya Malang, melakukan penelitian sejak bulan November 2018 untuk mencari kegunaan lain dari limbah pengolahan ikan pindang.

Sehingga Pada awal bulan Mei 2019, ke-5 orang mahasiswa itu adalah Bagas Prasetya, Ipin Orshella,  Nur Willis Sunarno, Muhammad Yusuf, Alfiandi Rahmad dan Ahmad Zulkarnain. Mereka menemukan sisi positif dari limbah pengolahan pindang  menjadi 5 produk bermutu  hasil pengembangan 2 alat ciptaan mereka.

Produk pertama  berupa pupuk cair organik. Pupuk ini dihasilkan dari sebuah alat ciptaan mereka bernama sprolina fertilizer maker, melalui 2 tahapan utama, pertama limbah cair diendapkan ditabung pertama selama 1 hari dengan bantuan bakteri E-M-4. Hasil endapan ini  kemudian disterilisasi menggunakan panci presto selama 5 hingga 10 menit sebelum menjadi pupuk cair organik.

Hasil uji lab dan uji coba dilapangan menyebutkan, pupuk cair organik ini mampu meningkatkan kualitas dan produktifitas tanaman semusim para petani, mulai dari sayuran, buah, hingga tanaman produktif lainnya.

Selain itu pupuk cair ini ternyata justru menjadi bibit dari 4 produk turunan sprolina. Pertama  pupuk cair ini diubah menjadi sprolina powder melalui alat temuan mereka sprolina cultivator. Di pasaran bubuk spirulina yang dihasilkan alat ini  banyak diburu pabrik pengolahan makanan dan kosmetik. 1 kilogram harganya mampu menembus angka 1,2 juta rupiah.

“Dari spirulina powder ini sendiri pun  bibit spirulina cair minuman kesehatan jelly dan beragam kue kering tercipta”, Ungkap Bagas.

Nantinya  kelompok mahasiswa ini bakal segera melakukan pengembangan 2 alat temuan mereka  agar dapat digunakan dalam skala besar, dan memberikan kualitas yang lebih dibanding yang ada saat ini. (Tuhu Priono)

 

Media Kita Bersama