Jelang HUT 17 Agustus, Pengrajin Baju Adat Banjir Orderan

Sidoarjo – Bulan Agustus menjadi berkah tersendiri bagi pengerajin baju adat di Kabupaten Sidoarjo. Menjelang peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, omset yang didapat naik hingga puluhan juta perbulan

Salah satunya Siti Ulfah  warga Dusun Ngengor RT 03 RW 03 Desa Becirongengor, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Usaha yang ditekuninya sejak enam tahun silam bersama suaminya, kini membuahkan hasil yang sangat menjanjikan.

Pesanan baju adatnya meningkat hingga 3 kali lipat dibandingkan pada bulan lainnya. Baju adat buatannya tersebut bermacam-macam mulai dari baju adat Dayak, Bali, Betawi, Gorontalo, dan baju adat yang berasal dari daerah Indonesia lainnya. Total ada 29 baju adat dari berbagai provinsi yang sudah dibuatnya. 

Produksi baju adat dari sabang sampai merauke tersebut dijual diberbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah diantaranya, Solo, Yogyakarta, Surabaya dan Malang. Selain itu tak sedikit masyarakat dari daerah luar Sidoarjo memesan secara langsung di tempat tersebut untuk disewakan pada acara karnaval 17 an maupun momen-momen tertentu seperti Hari Kartini. 

Banyaknya pesanan 7 sampai 10 kodi perhari, memaksa Ulfah memperkerjakan para tetangga desa dengan sistem upah borongan. Proses pemotongan kain, menjahit motif, memasang borci maupun pernak-pernik lainnya dikerjakannya sendiri bersama karyawannya yang berjumlah hingga 20 orang.

Untuk harga dua pasang baju adat ukuran orang dewasa beserta aksesorisnya di jual seharga  300 ribu rupiah sampai 350 ribu rupiah.  Sedangkan untuk ukuran anak-anak dua pasang beserta aksesorisnya seharga 200 ribu rupiah hingga 250 ribu rupiah. (Al Anshori)

 

Media Kita Bersama